Kamis, 21 Maret 2019
Selasa, 24 September 2013
seni tari, drama, rupa dan sastra pada masyarakat batak toba
Seni Tari
Tarian yang paling terkenal dari masyarakat Batak Toba adalah tari tor-tor, tor-tor memiliki beberapa jenis dari yang menggunakan properti seperti tor-tor sawan, dan yang tanpa properti seperti tor-tor embas-embas, tor-tor juga memiliki pemaknaan tersendiri dalam menarikannya, contohnya dalam pelaksanaan upacara adat, jika akan menghadap pihak hula-hula, maka gerakan yang dilakukan adalah dengan menundukkan kepala sambil menyatukan telapak tangan layaknya menyembah dan menghadap kepada hula-hula, demikian juga pihak hula-hula akan membuka lebar kedua tangannya dan menyentuh kepala pihak yang menghadapnya layaknya seseorang yang memberikan berkat,
Di kota Medan saat ini banyak terdapat sanggar tari yang mempelajari dan melatih tor-tor Batak Toba tersebut, bukan hanya itu, dalam setiap pelaksanaan kegiata upacara adat masyarakat Batak Toba di kota Medan kegiatan manortor masih tetap dilaksanakan.
Seni Teater dan Drama
Salah satu jenis seni teater atau drama yang terdapat pada masyarakat Batak Toba adalah Opera Batak yang pendirinya adalah Tilhang Oberlin Gultom (pendiri Opera Batak akhir tahun 1920-an).
Opera Batak merupakan pertunjukan drama musikal dimana cerita-ceritanya biasanya diangkat dari kisah-kisah orang Batak yang terdahulu, seperti asal mula Danau Toba, dan lain-lain.
Di kota Medan saat ini, kesenian ini sudah sangat jarang ditemui, hanya beberapa yang masih tetap eksis, seperti yang terdapat di Taman Budaya Sumatera Utara.
Seni Sastra
Seni sastra pada masyarakat Batak Toba ada beberapa jenis, dua diantaranya adalah : umpasa dan umpama.
Umpama adalah berupa rangkaian kalimat yang berupa perumpamaan yang biasanya berisikan petuah, contohnya:
Sada ma hamu songon daion aek
Unang dua songon daion tuak
Yang berarti : Kita harus bersatu seperti rasa air, jangan terpecah seperti rasa tuak (aren).
Sedangkan umpasa adalah berupa pantun yang biasanya berisikan nasehat, harapan dan hiburan, contohnya :
Sahat-sahatni solu ma
sai sahat ma tu bontean
Sai leleng ma hita mangolu
sai sahat ma tu panggabean
yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia berarti :
Seperti sampan yang sampai ketepian
kiranya kita tetap panjang umur dan
Sampai meraih kesuksesan.
Seni sastra ini masih sering juga ditemui pada masyarakat Batak Toba di kota Medan , dimana saat pelaksanaan upacara adat, umpama maupun umpasa masih dapat kita saksikan dan kita dengarkan.
Seni Rupa
Seni rupa yang terdapat pada masyarakat Batak Toba adalah gorga, gorga adalah sebuah motif yang diukir atau dilukiskan pada dinding atau tiang pada rumah adat Batak. Penggunaan gorga tidak terbatas hanya di situ saja, gorga juga sering digunakan sebagai hiasan dalam instrumen musik tradisional seperti taganing dan garantung.
sistem kesenian pada masyarakat Batak Toba (seni musik)
Menurut Koentjaraningrat
(1982:395-397), “kesenian merupakan
ekspresi manusia terhadap keindahan, dalam kebudayaan suku-suku bangsa yang pada
mulanya bersifat deskriptif”. Masyarakat Batak Toba memiliki berbagai macam
bentuk kesenian, yaitu seni suara, seni tari, seni rupa dan seni sastra. Seni suara merupakan
suatu bentuk karya seni yang dapat dinikmati manusia melalui pendengaran,
seperti seni vokal, seni instrumental, dan seni sastra. Seni vokal yang
berkembang pada masyarakat Batak Toba, yaitu berupa ende mandideng yaitu musik vokal yang berfungsi untuk menidurkan
anak, sedangkan seni suara melalui instrumen ada berupa bunyi atau repertoar
musik tradisional yang dimainkan dengan sulim,
hasapi, sarune etek, sarune bolon, garantung, saga-saga, mengmung, balobat,
taganing, ogung dan lain-lain.
Seni sastra terutama sastra lisan, yaitu berupa umpasa dan umpama yang
paling banyak dikuasai oleh masyarakat Batak Toba.
Seni rupa adalah suatu bentuk
kesenian yang dapat dinikmati melalui penglihatan (mata). Pada masyarakat Batak
Toba, ini dapat dilihat dari ukiran-ukiran pada rumah Batak (Jabu Bolon) yang menghiasi tiang-tiang
dan dinding. Seni tari dan gerak merupakan
gabungan antara seni musik dan gerak yang dapat dinikmati oleh manusia melalui
mata maupun telinga. Seni tari yang berkembang pada masyarakat Batak Toba, yaitu
berupa tor-tor, monsak, dan
lain-lain.
Seni Musik
Musik pada masyarakat Batak Toba tercakup dalam dua
bagian besar, yaitu musik vokal dan musik instrumental.
MusikVokal
Musik
vokal tradisional pembagiannya ditentukan oleh kegunaan dan tujuan lagu
tersebut yang dapat dilihat dari liriknya. Ben Pasaribu (1986 : 27-28) membuat
pembagian terhadap musik vokal tradisional Batak Toba dalam delapan bagian,
yaitu :
1.
Ende mandideng, adalah
musik vokal yang berfungsi untuk menidurkan anak ( lullaby)
2.
Ende sipaingot,
adalah musik vokal yang berisi pesan kepada putrinya yang akan menikah.
Dinyanyikan pada saat senggang pada hari menjelang pernikahan tersebut.
3.
Ende pargaulan,
adalah musik vokal yang secara umum merupakan “solo-chorus”, dan dinyanyikan oleh kaum muda-mudi dalam waktu
senggang, biasanya malam hari.
4.
Ende tumba,
adalah musik vokal yang khusus dinyanyikan saat pengiring tarian hiburan (tumba). Penyanyinya sekaligus menari
dengan melompat-lompat dan berpegangan tangan sambil bergerak melingkar.
Biasanya ende tumba ini dilakukan oleh remaja di alaman (halaman
kampung) pada malam terang bulan.
5.
Ende sibaran,
adalah musik vokal sebagai cetusan penderitaan yang berkepanjangan. Penyanyinya
adalah orang yang menderita tersebut, yang menyanyi di tempat yang sepi.
6.
Ende pasu-pasuan,
adalah musik vokal yang berkenaan dengan pemberkatan. Berisi lirik-lirik
tentang kekuasaan yang abadi dari yang maha kuasa. Biasanya dinyanyikan oleh
orang-orang tua kepada keturunannya.
7.
Ende hata,
adalah musik vokal yang berupa lirik yang diimbuhi ritem yang disajikan secara
monoton, seperti metric speech.
Liriknya berupa rangkaian pantun dengan bentuk aabb yang memiliki jumlah suku
kata yang sama. Biasanya dimainkan oleh kumpulan kanak-kanak yang dipimpin oleh
seorang yang lebih dewasa atau orang tua.
8.
Ende andung,
adalah musik vokal yang bercerita tentang riwayat hidup seseorang yang telah
meninggal dunia, yang disajikan pada saat atau setelah disemayamkan. Dalam ende andung melodinya datang secara
spontan sehingga penyanyinya haruslah penyanyi yang cepat tanggap dan trampil
dalam sastra serta menguasai beberapa motif-motif lagu yang penting untuk jenis
nyanyian ini.
Demikian
juga Hutasoit yang dikutip oleh Ritha Ony (1988 : 13) membagi kategori musik
vokal menjadi tiga jenis, yaitu:
1.
Ende
namarhadohoan, yaitu musik vokal yang dinyanyikan untuk acara-acara namarhadohoan (resmi).
2.
Ende siriakon,
yaitu musik vokal yang dinyanyikan oleh masyarakat Batak Toba dalam kegiatan
sehari-hari.
3.
Ende sibaran,
yaitu musik vokal yang dinyanyikan dalam kaitannya dengan berbagai peristiwa
kesedihan atau dukacita.
Dari
beberapa jenis musik vokal tersebut yang sering terdapat di kota
Medan adalah
jenis ende andung dan ende sibaran, dimana saat terjadi
peristiwa dukacita, maka akan ada ada beberapa pihak dari keluarga yang meninggal
dunia tersebut yang mengandungi jenazah orang yang meninggal dunia tersebut sebelum dimakamkan.
Musik Instrumental
Dalam
musik instrumental ada beberapa instrumen yang lazim digunakan dalam ansambel
maupun disajikan dalam permainan tunggal, baik dalam kaitannya dalam upacara
adat, religi maupun sebagai hiburan.
Pada
masyarakat Batak Toba terdapat dua ansambel musik tradisional, yaitu: ansambel gondang hasapi dan gondang sabangunan. Selain itu ada juga instrument musik
tradisional yang digunakan secara tunggal.
Ansambel Gondang Hasapi
Beberapa
instrumen yang terdapat dalam ansambel gondang
hasapi adalah sebagai berikut:
1.
Hasapi ende (plucked lute dua senar) jenis chordophone yang berfungsi sebagai
pembawa melodi, dimainkan dengan cara mamiltik
(dipetik).
2.
Hasapi doal (plucked lute dua senar), sama denga hasapi ende, namun hasapi doal berfungsi sebagai pembawa ritem konstan, dan berukuran
lebih besar dari hasapi ende.
3.
Sarune etek (shawm), kelompok aerophone yang memiliki reed tunggal (single reed) dimainkan dengan mangombus
marsiulak hosa (meniup dengan terusmenerus).
4.
Garantung,
kelompok xylophone, pembawa melodi
juga sebagai pembawa ritem variabel pada lagu-lagu tertentu. Dimainkan dengan
cara dipalu.
5.
Hesek,
instrumen idiophone sebagai pembawa
tempo (ketukan dasar).
Ansambel Gondang Sabangunan
Beberapa
instrumen yang terdapat dalam ansambel gondang
sabangunan adalah sebagai berikut:
1. Taganing, kelompok membranophone, dari segi teknis, instrumen taganing memiliki
tanggung jawab dalam penguasaan repertoar dan memainkan melodi bersama-sama
dengan sarune bolon. Walaupun tidak
seluruh repetoar berfungsi sebagai pembawa melodi, namun pada setiap penyajian
gondang, taganing berfungsi sebagai “pengaba” atau “dirigen” (pemain group
gondang) dengan isyarat- isyarat ritme yang harus dipatuhi oleh seluruh anggota
ensambel dan pemberi semangat kepada pemain lainnya.
2. Gordang (single headed drum) ini berfungsi sebagai instrumen ritme variabel,
yaitu memainkan iringan musik lagu yang bervariasi.
3. Sarune (shawm) kelompok aerophone
yang doble reed berfungsi sebagai
alat untuk memainkan melodi lagu yang dibawakan oleh taganing.
4. Ogung
Oloan (pemimpin atau yang harus dituruti) ogung Oloan mempunyai
fungsi sebagai instrumen ritme konstan, yaitu memainkan iringan irama lagu dengan
model yang tetap. Fungsi ogung oloan ini
umumnya sama dengan fungsi ogung ihutan,
ogung panggora dan ogung doal dan sedikit sekali
perbedaannya. Ogung doal
memperdengarkan bunyinya tepat di tengah-tengah dari dua pukulan hesek dan menimbulkan suatu efek synkopis nampaknya merupakan suatu ciri khas dari gondang sabangunan. Fungsi dari ogung panggora ditujukan pada dua
bagian. Di satu bagian, ia berbunyi bersamaan dengan tiap pukulan yang kedua,
sedang di bagian lain sekali berbunyi bersamaan dengan ogung ihutan dan sekali lagi bersamaan dengan ogung oloan. Oleh
karena musik dari gondang sabangunan ini pada umumnya dimainkan dalam tempo
yang cepat, maka para penari maupun pendengar hanya berpegang pada bunyi ogung
oloan dan ihutan saja. Berdasarkan hal ini, maka ogung oloan yang berbunyi
lebih rendah itu berarti “pemimpin” atau “Yang harus di turuti” , sedang ogung
ihutan yang berbunyi lebih tinggi, itu “Yang menjawab” atau “Yang menuruti”.
Maka dapat disimpulkan bahwa peranan dan fungsi yang berlangsung antara ogung
oloan dan ogung ihutan dianggap oleh orang Batak Toba sebagai suatu permainan
“tanya jawab”.
Ogung Ihutan atau Ogung
pangalusi (Yang menjawab atau yang menuruti).
Ogung panggora atau Ogung
Panonggahi (Yang berseru atau yang membuat orang terkejut).
Ogung Doal
5. Hesek ini berfungsi menuntun instrumen lain secara
bersama-sama dimainkan. Tanpa hesek, permainan musik instrumen akan terasa
kurang lengkap. Walaupun bentuk instrumen dan suaranya sederhana saja, namun
peranannya penting dan menentukan sebagai pembawa tempo.
Instrumen Tunggal
Instrumen
tunggal adalah alat musik yang dimainkan secara tunggal yang terlepas dari
ansambel gondang hasapi dan gondang sabangunan. instrumen yang termasuk
instrumen tunggal dalam masyarakat Batak Toba antara lain:
1.
Sulim (transverse flute), kelompok aerophone. Dimainkan dengan meniup dari
samping (side blown flute), berfungsi
membawa melodi
2.
Saga-saga (jew’s harp) klasifikasi idiophone. Dimainkan dengan menggetarkan
lidah dan instrumenttersebut di rongga mulut sebagai resonatornya.
3.
Jenggong (jew’s harp) mempunyai konsep yang sama
dengan saga-saga, namun materinya
berbeda karena terbuat dari logam.
4.
Talatoit (transverse flute), sering juga disebut salohat atau tulila. Dimainkan dengan meniup dari samping. Kelompok aerophone.
5.
Sordam (long flute) terbuat dari bambu, kelompok
aerophone, dimainkan dengan ditiup
dari ujung (end blown flute).
6.
Tanggeteng,
alat musik yang senarnya terbuat dari rotan dan peti kayu sebagai resonatornya.
Dari
ketiga jenis seni musik instrumental di atas, yang kerap ditemukan di kota
Medan hanyalah ansambel gondang
sabangunan, sedangkan ansambel gondang
hasapi sudah sangat jarang, namun demikian terdapat juga beberapa
pengggabungan antara instrumen tunggal dengan anasambel gondang hasapi yang di
kota Medan sering disebut uning-uningan,
juga sering digabungkan dengan instrumen musik barat seperti, keyboard, guitar, bass, drum, saxophone,
trompet, yang di kota Medan sering disebut brass band atau musik tiup.
Sistem Kekrabatan masyarakat Batak Toba
Bentuk
sistem kekerabatan berdasarkan garis keturunan (genealogi) terlihat dari silsilah marga mulai dari Si Raja Batak, dimana
semua suku bangsa Batak memiliki marga. Sedangkan kekerabatan berdasarkan wilayah pemukiman
yang terlihat dari terbentuknya suatu tradisi adat-istiadat di setiap wilayah.
Untuk
menggambarkan betapa kedua bentuk kekerabatan ini memiliki daya rekat yang
sama, ada perumpamaan dalam bahasa Batak Toba yang berbunyi: Jonok dongan
partubu jonokan do dongan parhundul. Artinya, semua orang mengakui bahwa
hubungan garis keturunan adalah sudah pasti dekat, tetapi dalam sistem
kekerabatan Batak lebih dekat lagi hubungan karena bermukim di satu wilayah.
Begitu
juga dengan masyarakat Batak Toba yang bermukim di kota Medan, kekerabatan
mereka menjadi sangat “kental”, dikarenakan merasa dalam satu wilayah
perantauan yang sama, dan memiliki ikatan yang erat sesama masyarakat Batak
Toba, walaupun mereka kebanyakan bukan dari garis keturunan yang sama (semarga),
namun kedekatan sesama masyarakat Batak Toba di kota Medan tetap terjalin
dengan sangat baik, hal ini terbukti dari setiap pelaksanaan upacara adat,
maupun upacara keagamaan yang dilaksanakan masyarakat Batak Toba di kota Medan,
dimana saat upacara berlangsung maka masyarakat Batak Toba yang ada di wilayah
tersebut akan turut berpartisipasi dan menghadiri acara tersebut.
Masyarakat
Batak memiliki falsafah atau azas sekaligus sebagai struktur dan sistem dalam
kemasyarakatannya yakni Tungku nan Tiga atau dalam Bahasa Batak Toba disebut Dalihan na
Tolu, yakni Hula-hula,
Dongan Tubu dan Boru.
- Hula-hula adalah pihak keluarga dari isteri. Hula-hula ini menempati posisi yang paling dihormati dalam pergaulan dan adat-istiadat Batak (semua sub-suku Batak). Sehingga kepada semua orang Batak dipesankan harus hormat kepada Hulahula (Somba marhula-hula).
- Dongan Tubu disebut juga Dongan Sabutuha adalah saudara laki-laki satu marga. Arti harfiahnya “lahir dari perut yang sama”. Mereka ini seperti batang pohon yang saling berdekatan, saling menopang, walaupun karena saking dekatnya terkadang saling “gesek”. Namun pertikaian tidak membuat hubungan satu marga bisa terpisah. Diumpamakan seperti air yang dibelah dengan pisau, kendati dibelah tetapi tetap bersatu. Namun demikian kepada semua orang Batak (berbudaya Batak) dipesankan harus bijaksana kepada saudara semarga. Diistilahkan, manat mardongan tubu.
- Boru adalah pihak keluarga yang mengambil isteri dari suatu marga (keluarga lain). Boru ini menempati posisi paling rendah sebagai “parhobas” atau pelayan baik dalam pergaulan sehari-hari maupun (terutama) dalam setiap upacara adat. Namun walaupun burfungsi sebagai pelayan bukan berarti bisa diperlakukan dengan semena-mena. Melainkan pihak boru harus diambil hatinya, dibujuk, diistilahkan dengan elek marboru.
Senin, 23 September 2013
Sebelah sayang
Sebelah sayang
Terbitan terbaru dr sebuah perasaan yg berkecamuk, dan bergejolak, terlalu pun smpai terasa mumet otak ini, dmn kah makna pelukan, ciuman, belaian, dan kasih sayang? Jawab ku adalah d sbelah nya, yg adalah tmpt untuk nafsu, amarah, benci, dan kebodohan, yg walaupun d sblah nya, tp sbnarnya, mreka smua pada ruangan yg sama, yaitu manusia dan cinta nya yg tak kalah egois nya dngn dunia dan alam nyata nya, maka biar lah masalah tetap ada, biarlah duka tetap terasa, biar lah tangis tetap terjaga, karena keindahan nya, kt tau saat smua itu adalah tawa, dr lelucon kehidupan yang kt tempah, kt ukir, dan kt awet kan bersama, bkn salah ku, bkn salah mu, bkn jg salah siapa2, tetapi bgt lah ada nya.
Welly, 140909, tenga malam
Welly, 140909, tenga malam
Sebelah sayang
Terbitan terbaru dr sebuah perasaan yg berkecamuk, dan bergejolak, terlalu pun smpai terasa mumet otak ini, dmn kah makna pelukan, ciuman, belaian, dan kasih sayang? Jawab ku adalah d sbelah nya, yg adalah tmpt untuk nafsu, amarah, benci, dan kebodohan, yg walaupun d sblah nya, tp sbnarnya, mreka smua pada ruangan yg sama, yaitu manusia dan cinta nya yg tak kalah egois nya dngn dunia dan alam nyata nya, maka biar lah masalah tetap ada, biarlah duka tetap terasa, biar lah tangis tetap terjaga, karena keindahan nya, kt tau saat smua itu adalah tawa, dr lelucon kehidupan yang kt tempah, kt ukir, dan kt awet kan bersama, bkn salah ku, bkn salah mu, bkn jg salah siapa2, tetapi bgt lah ada nya.
Welly, 140909, tenga malam
Welly, 140909, tenga malam
Langganan:
Postingan (Atom)